Catatan Slengean tentang Ikhtiar dan Tawakal

Catatan Slengean Tentang Ikhtiar dan Tawakal - becik.id

Ilustrasi: cikimm.com

Catatan Slengean tentang Ikhtiar dan Tawakal

Oleh Muhammad Sholah

BECIK.ID—SETIAP usaha manusia hakikatnya selalu berhasil, meskipun dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Sebab secara kasat mata ikhtiar (usaha) itu telah terlaksana. Tinggal bertawakal (hasil) saja.

Hasil sebenarnya sesuatu di luar kendali manusia. Banyak orang berjuang keras namun hasilnya tak sesuai harapan. Begitu juga tidak sedikit orang yang usahanya biasa-biasa saja, bahkan sama sekali tanpa usaha, namun menuai banyak hasil.

Anak orang kaya adalah salah satu contohnya. Ia sama sekali tidak urun upaya tapi saat dia lahir dari seorang ayah yang kaya, semuanya jadi terpenuhi—jangan salahkan ayahmu ya!

Manusia cerdas adalah mereka yang berproses pada usaha dan bukan pada hasil.

Muhammad Sholah

Kenyataan ini menjadikan kita semakin yakin bahwa manusia adalah mahluk terbatas sekaligus tak terbatas.

Ia diberi ruang seluas jangkauan pikiranya namun ketika berusaha, hasil selalu tidak sama dengan perkiraan; bisa lebih kecil atau malah lebih besar dari perkiraanya.

Oleh karenanya, manusia cerdas adalah mereka yang berproses pada usaha dan bukan pada hasil.

Soal hasil cukup diurus oleh si tawakal. Si tawakal ini adalah makhluk tak terbatas yang bekerja keras tanpa henti sehingga memberikan hasil terbaik yang tak pernah disangka-sangka.

Ciri-ciri si tawakal ini adalah ia tak mau dibatasi, ia tak mau terburu-buru, ia selalu datang tepat waktu saat dibutuhkan. Orang-orang lugu biasa menyebutnya mukjizat atau keajaiban. Bagi mereka yang percaya, makhluk ini begitu nyata sehingga ia tak perlu repot-repot mengeluarkan banyak energi untuk mendatangkanya! Sebab ia selalu datang tanpa harus diundang.

Si tawakal ini begitu memahami kita melebihi pemahaman kita pada diri kita sendiri. Si tawakal ini lebih dekat dengan kita daripada kedekatan kita dengan diri kita sendiri. Si tawakal ini lebih sayang pada kita daripada sayang kita pada diri kita sendiri.

Tapi tahukah kamu, si tawakal ini punya musuh besar lho. Besar sekali.

Siapakah musuhnya itu?

Ego kita—yang selalu terburu-buru dalam memaksakan hasil.

Ilmu kita—yang merasa pintar sendiri, hebat sendiri, sampai kita lupa bahwa sejatinya kita tak tahu apa-apa.

Dalam firman-Nya, Allah mengatakan bahwa Dia menyukai orang-orang yang selalu mengembalikan diri (taubat) dan menyucikan hati. (Al Baqarah: 222)

Orang-orang yang selalu mengembalikan diri artinya orang yang sadar, bahwa ia tidak punya kendali dalam menentukan hasil. Orang yang menyucikan hati adalah orang yang memberi ruang bagi Tuhan untuk menyelesaikan semua persoalannya dan mengakui kelemahannya.

Di zaman yang katanya modern ini, tampaknya lebih banyak orang yang pandai berikhtiar namun jarang yang mau belajar untuk kembali (bertawakal).

Maka sebabagaimana kata pepatah:

barangsiapa yang berikhtiar maka akan tampak pandai

Barangsiapa yang bertawakal ia akan tampak bodoh

Keduanya sama-sama tampak , tapi di balik yang tampak-tampak itu ada lapisan-lapisan lain yang tak tampak. Dan itulah yang sejati!

Selamat menampakkan diri. ***

Porong 3-6-2021


MUHAMMAD SHOLAH, penikmat buku asal Kajen Pati. Tinggal di Porong Sidoarjo.


Exit mobile version