Menggedor Pintu Langit

Menggedor Pintu Langit - BECIK.ID

Menggedor Pintu Langit

Oleh Eko Sam

BECIK.ID—Saya tahu, Tuhan ada di dekat saya, namun entah mengapa Tuhan masih terasa jauh di atas langit sana.

Sepenggal kalimat ini muncul setahun lalu, bertepatan dengan pergantian tahun baru. Lantas, dalam setahun perjalanan yang telah saya lewati, apakah intisari dari sepenggal kalimat di atas telah berubah redaksinya? Ternyata belum.

Hingga saat ini, Tuhan masih terasa jauh di atas sana. Padahal, sudah kelewat sering setahun ini saya mencari tausiah kepada para kiai dan orang alim perihal perasaan ini yang sejatinya Tuhan Allah itu sedemikian dekat dengan urat di leher. Namun apa daya, rasa kebersamaan Tuhan nyatanya masih sebatas ini.

Hingga saja, kerap sekali saya mencoba mempraktikkan makna ihsan secara sederhana (atau bisa disebut agak serampangan). Yang mana, saya belum bisa setulus hati kalau-kalau Allah senantiasa mengawasi saya dan saya juga belum bisa merasa Allah menyertai saya. Maka, tak jarang, dalam setiap kondisi diri saat posisi ingat Allah, agar polah tingkah terjaga dengan semestinya, saya membayangkan salah satu guru saya, alm. Kiai Sahal Mahfudz, duduk di sebelah saya.

Saya sering membayangkan, saat bepergian jauh sendirian, beliau Yai Sahal duduk di jok sebelah saya. Apa hasilnya? Tentu dengan lembah manah saya menginjak gas dan tidak mungkin bermanuver secara zig-zag. Dan pula, saat saya makan di rumah, kerap pula saya membayangkan beliau Yai Sahal dahar bersama saya. Tentu, saat membayangkan kejadian itu, saya akan makan secara runut dan mengunyah dengan hati-hati serta tidak rakus.

Ya, baru sedemikian remeh kondisi saya menghadapi kenyataan bahwa Tuhan Allah sedemikian dekat. Saya belum bisa merasakan kehadiran Allah yang amat dekat dengan pembuluh darah saya.

Hingga-hingga, saya dengan otodidak menemukan kondisi keilahian Allah yang saat ini bisa terasa dekat bagi saya sebagai seorang hamba saat usai salat maktubah membiasakan diri bersujud dan membaca syahadat tiga kali dilanjut bacaan tahlil sekali.

Alhamdulillah, dengan terapi sederhana tersebut, saya merasa Tuhan semakin agak dekat dan turun sedikit dari Singgasana Langit Sana. Dan rasanya, jika saya kian berlama-lama pada kondisi sujud tersebut, Tuhan Allah juga semakin turun dan mendekat … kemudian mendekat … dan kian mendekat. (*)


Exit mobile version