Menghidupkan Gus Dus

Menghidupkan Gus Dus

Menghidupkan Gus Dus

Oleh A.S. Laksana

Sudah lama saya ingin menuliskan pengalamannya sebagai juru bicara presiden—atau, menurut kelakar teman-teman, sebagai santri Gus Dur di pondok pesantren paling megah, istana negara. Yahya Staquf adalah salah satu dari tiga juru bicara presiden Abdurrahman Wahid; dua lainnya Adhi Massardi dan Wimar Witoelar.

Dua puluh dua bulan kepresidenan Gus Dur (1999-2001) saya ingat sebagai masa yang ingar bingar dan sarat manuver politik—dan yang berkembang dalam silang susup manuver itu adalah situasi antagonistik antara presiden dan DPR. Pada umumnya orang masih sulit mempercayai DPR. Orang lebih bisa mempercayai integritas personal Gus Dur, tetapi sekaligus sering bingung oleh langkah-langkah dan pernyataan-pernyataannya.

Pada masa-masa menjelang Gus Dur dilengserkan, Yahya Staquf sebagai juru bicara presiden terlihat bicara terlalu hati-hati dan membosankan dan menyebalkan. Padahal, saya mengenalnya di kampus sebagai orang yang tangkas bicara.

Tidak lama setelah ia bukan lagi juru bicara presiden, sebagai konsekuensi dari diturunkannya Gus Dur melalui Sidang Istimewa MPR 2001, Yahya Staquf mengunjungi saya di daerah Duren Tiga dan ia menjadi tangkas lagi dan saya heran: “Kok kamu sekarang jadi pinter lagi?”

Ia mengaku tegang dan tersiksa ketika Gus Dur menjadi presiden. “Ia kiai NU,” katanya. “Dan ia presiden. Sebetulnya tidak ada masalah jika orang menyerang kebijakannya sebagai presiden. Mengkritik kebijakan presiden adalah tindakan wajar.”

Tetapi, baginya, pertama-tama Gus Dur adalah kiai NU yang ia hormati, yang ia junjung tinggi, yang selalu ia ingat jasa besarnya: Gus Dur telah melakukan kerja besar, nyaris sendirian, membelokkan orientasi dan mewujudkan transformasi luar biasa pada kapal raksasa bernama NU.

“Tanpa Gus Dur, NU kemungkinan besar menjadi fundamentalis,” katanya. “Sebelum 1984, NU sangat fundamentalis. Saya sangat fundamentalis. Saya marah ketika pemerintah Orde Baru memaksakan asas tunggal Pancasila. Gus Dur yang telah membelokkan arah NU, memberi wawasan baru keagamaan sehingga NU menjadi seterbuka sekarang.

“Itu sebabnya saya sedih ketika Gus Dur diserang kiri-kanan. Saya pikir, saya saja yang diserang, jangan kiai saya. Jadi, saya kemudian memilih cara yang membuat kamu sebel itu. Setidaknya, dengan cara seperti itu, saya berharap sasaran tembak tidak terkonsentrasi hanya kepada Gus Dur. Saya juga pantas diserang karena menyebalkan.”

Buku tentang pengalaman Yahya Staquf “nyantri” kepada Gus Dur, pengalaman intimnya selama menemani Gus Dur pada saat-saat presiden sedang sendirian di istana, sebentar lagi selesai. Mudah-mudahan minggu ini siap masuk cetak. Dia memberi usul tentang judul buku itu: Menghidupkan Gus Dur. Saya setuju.


A.S. Laksana pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah pada 25 Desember 1968. Ia merupakan lulusan Komunikasi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ia telah menulis beberapa buku dan cerpen yang telah diterbitkan di berbagai media. Buku kumpulan cerpennya Bidadari Yang Mengembara dipilih oleh Majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik 2004. Buku kumpulan cerpen lainnya Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu, 2013 dan Si Janggut Mengencingi Herucakra, 2015.

Exit mobile version