Nadiem dan Reformasi Pendidikan Gampang-Gampangan

Nadiem dan Reformasi Pendidikan Gampang-Gampangan

Oleh A.S. Laksana

Saya pernah mendengar dari Hamid Basyaib, yang bersahabat dengan keluarga Nono Makarim, bahwa Nadiem bersedia menjadi menteri hanya jika itu menteri pendidikan. Jika informasi itu benar, saya menaruh hormat pada niat baiknya. Sementara yang lain ingin ditunjuk, menjadi menteri apa pun tak masalah asalkan menteri, Nadiem menunjukkan ia orang yang berbeda.

Saya yakin ia punya niat baik untuk membenahi pendidikan: ia melihat masalah utama pendidikan kita dari sudut pandangnya, dan ia memikirkan jalan terbaik untuk mengatasinya.

Nadiem, kita tahu, telah mencatatkan keberhasilan fenomenal dengan Gojeknya. Ia melihat kemacetan lalu lintas Jakarta, dan ia menawarkan solusi untuk problem yang makin lama makin parah itu. Gojek melambung tinggi. Hanya dalam waktu singkat ia menjadi perusahaan sangat besar.

Sekarang ia mengarahkan matanya ke persoalan pendidikan, sebuah urusan yang negeri ini tidak kunjung sanggup memperbaiki mutunya. Kualitas pendidikan umum kita buruk, kalau bukan sangat buruk, dan ia sudah berlangsung lama.

Ada pelajaran bahasa Inggris, tetapi tidak membuat orang mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Ada pelajaran bahasa Indonesia, tetapi tidak membuat orang berbahasa Indonesia secara baik. Sekolah-sekolah kita bahkan gagal membuat para siswa suka membaca buku.

Ditambah lagi, fasilitas sekolah umum tidak merata di semua wilayah di Indonesia. Di daerah-daerah pelosok, anak-anak mendapatkan pendidikan yang tidak memadai, baik fasilitas maupun tenaga pengajarnya.

Nadiem, sebagai menteri pendidikan saat ini, adalah anak muda luar bisa—ia cerdas dan mampu mewujudkan keberhasilan cepat. Saya berharap ia tidak buru-buru frustrasi dengan posisi barunya sebagai menteri pendidikan.

Pendidikan, bagaimanapun, adalah urusan yang menuntut kesabaran, tidak bisa digas pol seperti ojek online. Bahkan dalam situasi hari ini, di mana segala hal menghendaki kecepatan dan hasil seketika, pendidikan memerlukan pola pikir yang berbeda. “Reformasi sekolah adalah proses yang kompleks dan lambat. Memburu-buru prosesnya hanya akan menghasilkan kerusakan. Ia harus didasarkan pada riset, yang hasilnya nanti diterapkan melalui kolaborasi oleh para akademisi, pembuat kebijakan, kepala sekolah, dan guru-guru.” kata Pasi Sahlberg, pakar pendidikan Finlandia.

Ada pelajaran bahasa Inggris, tetapi tidak membuat orang mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Ada pelajaran bahasa Indonesia, tetapi tidak membuat orang berbahasa Indonesia secara baik. Sekolah-sekolah kita bahkan gagal membuat para siswa suka membaca buku.

AS Laksana

Beberapa waktu lalu, negara itu melakukan reformasi pendidikan, meskipun dunia mengakui sistem pendidikan mereka adalah salah satu yang terbaik. Mereka melakukan riset lagi, merumuskan ulang pemikiran tentang pendidikan, dan lebih melibatkan pemerintah-pemerintah daerah setempat untuk menyelenggarakan pendidikan yang cocok dengan karakter wilayah masing-masing. Negeri itu memikirkan betul cara terbaik untuk menyiapkan anak-anak menjadi orang-orang dewasa yang kelak akan mengisi zaman yang berbeda.

Pemerintah kita juga ingin memperbaiki mutu pendidikan. Karena itulah Presiden Jokowi menunjuk Nadiem Makarim, anak muda yang prihatin terhadap mutu pendidikan kita, sebagai menteri pendidikan. Tetapi, anda tahu, membebankan urusan pendidikan kepada satu orang adalah tindakan tidak bertanggung jawab.

Sebagaimana dalam urusan-urusan lain, Pak Presiden selalu ingin gampang-gampangan saja. Ia mengejutkan, dan membuat saya frustrasi, ketika memilih KH Ma’ruf Amin sebagai wakilnya. Dan ia kembali membuat orang frustrasi ketika memilih Prabowo sebagai menteri pertahanan.

Tetapi ia memang begitu. ia bukan pemikir, bukan solidarity maker, dan menurut saya bukan negarawan. ia hanya politisi biasa saja yang harus membuat posisinya aman. Saya tidak akan berharap banyak kepada orang yang seperti itu. (*)


Ilustrasi foto: David Khoirul, 26 Januari ’13

A.S. Laksana pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah pada 25 Desember 1968. Ia merupakan lulusan Komunikasi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ia telah menulis beberapa buku dan cerpen yang telah diterbitkan di berbagai media. Buku kumpulan cerpennya Bidadari Yang Mengembara dipilih oleh Majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik 2004. Buku kumpulan cerpen lainnya Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu, 2013 dan Si Janggut Mengencingi Herucakra, 2015.


Exit mobile version