Nasihat Terakhir Abah Nafi’ tentang Cara Meredam Hawa Nafsu

Nasihat Terakhir Abah Nafi’ tentang Cara Meredam Hawa Nafsu

Oleh Eko Sam

BECIK.ID—Saya merasa beruntung, beberapa pekan sebelum kepulangan beliau K.H. Ahmad Nafi’ Abdillah Kajen Pati ke Pangkuan Allah, Ahad (19/2/2017) di Istanbul Turki, bisa sowan dan bertanya perihal khusus kepada beliau. Yang mana, perihal khusus tersebut telah sekian lama saya pendam dan senantiasa saya cari jawabannya sendiri via buku-buku, kitab kuning atau hasil diskusi dengan sebagian orang yang saya temui.

Saat itu, dengan nawaitu bismillah berserah diri kepada Allah, saya memberanikan diri menghadap beliau Abah Nafi’ ditemani seorang teman karib.

Tanpa berpikir panjang, usai sekian lama saya memendam pertanyaan ini, dan usai sekian kali saya mendapat jawaban dari banyak orang, tetaplah … sekian jawaban tersebut belum melegakan hati saya.

Maka, usai mengatur napas dan pola duduk seorang santri yang diupayakan begitu takzim, dengan suara lirih saya mengajukan tanya kepada beliau.

“Bah, nyuwun sewu … Caranipun meredam hawa nafsu niku pripun, nggih?” (Abah, mohon maaf. Caranya meredam hawa nafsu itu bagaimana, ya?)

Dengan senyum dan lirikan mata khas beliau yang amat tajam namun teduh dan menenteramkan, beliau mengamati saya. Kemudian beliau menjawab …

“Sitikno mangane.” (Sedikitkan makannya.)

Sudah, itu saja. Persoalan yang sekian tahun menghantui saya terjawab sudah. Saya hanya kian menunduk seraya mencoba mencerna maksud jawaban beliau tersebut tanpa berani melontarkan sepatah kata pun.

Bakda hening sejenak waktu beliau kemudian menyilakan kami meminum teh hangat dan menikmati camilan ringan ala suguhan para kiai sepuh. Kemudian … suasana menjadi cair. Beliau berkisah banyak hal. Layaknya seorang bapak yang tengah membekali banyak petuah bijak kepada si anak yang hendak merantau jauh.

Bertahun berikutnya, saya masih merenungi nasihat beliau tersebut. Dan hal itu justru semakin menghantui saya. Di antaranya saya mencoba menggali perbedaan fungsi makan yang lebih esensial bagi seorang anak dan orang dewasa.

Makan bagi anak-anak merupakan sumber energi yang kemudian dikuras habis untuk bermain dan senang-senang. Sedangkan makan bagi orang dewasa memiliki fungsi selain sumber tenaga justru diforsir agar otak berputar semakin keras. Tentu hal ini begitu berlainan.

Mengenai aturan makan yang baik, Rasulullah Muhammad saw. telah bersabda;

ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه

“Tidak ada wadah yang lebih buruk untuk diisi penuh oleh seorang manusia melebihi perutnya. Cukuplah bagi anak Adam, beberapa suapan makanan saja selama sudah bisa menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa melakukannya, hendaklah (mengisi) sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiganya untuk minuman dan sepertiganya untuk napas.”

***

Benar saja, salah satu jalan keluar untuk meredam hawa nafsu ialah menyedikitkan makan. Hal itu saya temukan di kemudian waktu dalam kitab Ihya Ulumuddin cindera mata Imam Ghazali usai sowan terakhir kepada beliau Abah Nafi’.

Namun, pertanyaan saya berikutnya adalah apa nasihat beliau tersebut tentang ‘menyedikitkan makan’ itu sekadar bentuk harfiah jika porsi makan saya dikurangi? Atau menyarankan agar saya segera riyadah puasa sunah kembali? Atau bisa jadi intisari jawaban beliau macam ini …

Sedikit makan, berarti saya diminta mengurangi sumber-sumber bahan makanan yang asal muasalnya tidak amat murni seperti tetesan air hujan yang jatuh dari langit dan langsung masuk dalam mulut kita. Jika saya makan sedikit, berarti saya menyedikitkan hal-hal mubah atau mungkin makruh atau bahkan najis/haram ke dalam tubuh saya yang kemudian diperas intisarinya jadi sumber tenaga untuk ibadah?

Yang saya tahu tentang banyak makan atau tentang kondisi seseorang yang telah nyaman perihal makan, membuat akal dan rasa menjadi tumpul. Kejernihan dalam berpikir, empati dan kepekaan terhadap hal di sekitar juga berubah samar-samar.

Misalnya macam ini, dulu, saat saya di kos mahasiswa dan sering bersetia pada kondisi perih perut yang melilit karena lapar, saya begitu mudah dalam hal menulis tulisan-tulisan (yang menurut saya) bernas yang kemudian dimuat di koran-koran. Namun, usai menikah dan diberi kemudahan Allah dalam hal rezeki, saya malah kesulitan dan malas menulis dan terkesan lebih memilih melakukan kegiatan yang tidak begitu memeras otak tapi menghasilkan cuan yang menggiurkan.

Tapi sudahlah. Yang jelas, PR lama yang jadi bahan renungan saya telah saya temukan. Perihal aksi nyata guna meredam hawa nafsu agar mau jinak menuruti perintah saya bisa saya jalankan berikutnya; entah dengan cara mengurangi porsi makan atau menjalankan puasa-puasa sunah.


Pada kesempatan yang lain, beliau Abah Nafi’ juga berpesan; “Kalau kamu makan, di tengah-tengah makan jangan minum. Dan sesudah makan jangan minum dulu sampai 30 menit. Itu obat segala penyakit. Dulu saya pernah mengidap penyakit gula darah dan periksa ke dokter disarankan diet. Tapi tidak betah. Kemudian saya sowan ke Habib Luthfi dan diijazahi seperti di atas; jangan minum sesudah makan sampai 30 menit.”


EKO SAM, founder becik.id


Exit mobile version